Thursday, May 1, 2014

Mengenal "Genjer-Genjer" - Lagu Legendaris Indonesia Korban Rezim Orde Baru

Genjer (Limnocharis Flava)
Kawan-kawan yang pernah mengalami kehidupan di masa rezim Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto, atau setidaknya sudah merasakan masa kecil di era pemerintahan junta militer diktatoris tersebut, serta telah menonton sebuah film legendaris "Pengkhianatan G-30-S/PKI", seharusnya mengenal juga sebuah lagu berjudul "Genjer-Genjer". Ya, lagu "Genjer-Genjer" sangat berkaitan dengan film "Pengkhianatan G-30-S/PKI". Singkatnya, dalam film yang termasuk propaganda rezim Orde Baru tersebut diceritakan kisah penculikan, pembunuhan, dan pembantaian para jenderal perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang dilakukan secara sadis oleh pasukan Cakrabirawa yang termasuk dalam keanggotaan PKI (Partai Komunis Indonesia). Jenderal-jenderal yang diculik dan dibantai secara tidak manusiawi oleh komplotan PKI tersebut konon karena dituding telah membentuk "Dewan Jenderal" yang bertujuan mengkudeta pemerintahan Presiden Soekarno, yang pada akhirnya akan mengakibatkan bubarnya Partai Komunis Indonesia. Sebelum 'Dewan Jenderal' melaksanakan 'rencana' tersebut yang diklaim bakal terjadi pada peringatan HUT ABRI ke-20 tanggal 5 Oktober 1965, maka PKI mengambil 'aksi pendahuluan' dengan cara menculik para jenderal yang diduga terlibat untuk dihadapkan kepada Bung Karno pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari, dimana koordinasinya difinalisasi pada tanggal 30 September 1965 malam. Namun, yang terjadi adalah bukannya dihadapkan kepada Presiden Soekarno, para jenderal tersebut justru dibunuh dan dibantai secara sadis di sebuah tempat di kawasan Lubang Buaya, berdekatan dengan Lapangan Terbang Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Presiden Soekarno sendiri ternyata terbukti sama sekali tidak mengetahui tentang adanya isu 'Dewan Jenderal' maupun rencana busuk Gerakan 30 September 1965 yang digagas oleh Komandan Pasukan Cakrabirawa Letkol. Untung Syamsuri, salah satu loyalisnya sendiri yang sangat setia.

Kembali lagi ke topik utama. Dalam film "Pengkhianatan G-30-S/PKI" tersebut digambarkan bahwa 'prosesi' penyiksaan para jenderal perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang dilakukan oleh para petinggi PKI dan para pemimpin organisasi massa onderbouw PKI tersebut 'diiringi' oleh dendangan lagu "Genjer-Genjer" yang dinyanyikan oleh ibu-ibu anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), salah satu ormas onderbouw PKI. Tidak hanya oleh ibu-ibu anggota Gerwani, lagu "Genjer-Genjer" dalam ilustrasi film tersebut juga konon dinyanyikan bersama-sama oleh para pasukan militan PKI dan sebagian masyarakat sipil yang menjadi simpatisan PKI sambil berjoget dan menari.

Sejarah Lagu "Genjer-Genjer"

Sejarah mencatat bahwa lagu "Genjer-Genjer" diciptakan oleh seorang seniman dari Kota Banyuwangi bernama Muhammad Arief. Menurut beberapa tokoh praktisi seni dan budaya Banyuwangi yang juga merupakan kawan sejawat alm. Muhammad Arief, lagu "Genjer-Genjer" diciptakan sebagai gambaran keadaan rakyat Banyuwangi pada masa penjajahan Jepang. Saat itu, Bayuwangi sejak zaman Kerajaan Majapahit terkenal sebagai salah satu lumbung pangan di Pulau Jawa yang tidak pernah mengalami paceklik atau kekurangan bahan makanan. Hasil bumi 'Tanah Blambangan' (Banyuwangi --> "Blambangan" berasal dari kata 'Balumbung' alias 'lumbung pangan', yang kini meliputi lima kabupaten di Jawa Timur, yaitu Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi) selalu mampu mencukupi kebutuhan masyarakatnya. Bahkan, hampir tiap masa panen selalu dikirim dan dipasarkan ke daerah lain. Nah, keadaan itu berubah sejak kedatangan Jepang di 'Bumi Blambangan'.

Berbagai Foto Muhammad Arief - Pencipta Lagu "Genjer-Genjer"

Pada masa pendudukan Jepang, banyak warga Banyuwangi yang sedang memasuki usia produktif, terutama kaum laki-lakinya, ditangkap dan dijadikan sebagai pekerja paksa (romusha). Mereka dikirim ke seantero Nusantara, bahkan sampai ke daerah Indocina (Thailand, Kamboja, Vietnam, Burma, dan Laos). Mereka dipekerjakan di kamp-kamp militer Jepang yang sedang berperang melawan Sekutu. Keadaan ini mengakibatkan lahan pertanian di Banyuwangi terbengkalai dan tak terurus. Hasil panen yang melimpah pun turun drastis. Jangankan untuk dikirim ke luar daerah, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Banyuwangi saja tidak mencukupi. Banyak warga yang mengalami kelaparan dan meninggal dunia.

Muhammad Arief yang saat peristiwa itu tidak ikut ditangkap oleh pihak Jepang, kemudian menciptakan lagu "Genjer-Genjer" karena terinspirasi dari masakan sang istri, Sayekti. Dikarenakan tidak adanya sayur-mayur dan lauk-pauk, Sayekti lalu mengolah tanaman genjer untuk dijadikan sebagai sayuran. Olahan genjer yang dimasak menjadi oseng-oseng atau tumis ternyata menggugah selera makan Muhammad Arief. Masakan itu terasa enak dan sejak saat itu sangat disukai oleh Arief maupun warga sekitar.

Genjer adalah sejenis gulma yang biasa hidup di antara tanaman padi di sawah. Awalnya, genjer yang memiliki nama latin limnocharis flava oleh masyarakat Banyuwangi hanya digunakan untuk akanan ayam, bebek, atau bahkan babi. Atas kejadian itulah maka Muhammad Arief menciptakan lagu "Genjer-Genjer" sebagai bentuk sindiran terhadap penjajah Jepang. Menurut Suripan Sadi Hutomo, karya Muhammad Arief sesuai dengan fungsi Sastra Lisan, yaitu sebagai kritik sosial, sindiran terhadap penguasa, dan alat perjuangan. Diyakini, lagu "Genjer-Genjer" diciptakan oleh Muhammad Arief pada sekitar tahun 1942 atau 1943.

Menurut H. Adang C. Y. dan Hasnan Singodimayan, dua sahabat karib alm. Muhammad Arief, lagu "Genjer-Genjer" diciptakan karena terilhami oleh lagu mainan yang saat itu sudah melegenda di Banyuwangi, yakni "Tong Ala Gentong Ali-Ali Moto Ijo". Oleh Muhammad Arief, syair lagu tersebut diperbarui hingga jadilah lagu "Genjer-Genjer". Berikut ini syair asli lagu "Genjer-Genjer" berdasarkan buku catatan Muhammad Arief yang ditunjukkan oleh Sinar Syamsi, putra tunggal almarhum.

Syair Asli Lagu "Genjer-Genjer" Berbahasa Jawa:

Genjer-genjer nong kedo'an pathing keleler
Genjer-genjer nong kedo'an pathing keleler
Emake thole teko-teko mbubuti genjer
Emake thole teko-teko mbubuti genjer
Oleh sa'tenong mungkur sedot sing doleh-doleh
Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Genjer-genjer isuk-isuk didhol neng pasar
Genjer-genjer isuk-isuk didhol neng pasar
Dijejer-jejer diunthingi podo didasar
Dijejer-jejer diunthingi podo didasar
Emake jebeng podo tuku gowo welasar
Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Terjemahan Bahasa Indonesia:

Genjer-genjer berhamparan di persawahan
Genjer-genjer berhamparan di persawahan
Ibunya anak-anak datang mencabuti genjer
Ibunya anak-anak datang mencabuti genjer
Dapat sebakul dipilih yang muda-muda
Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang

Genjer-genjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Genjer-genjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ibuku beli genjer dimasukkan dalam tas
Genjer-genjer sekarang siap dimasak

Popularitas Lagu "Genjer-Genjer"

Setelah Indonesia merdeka, lagu "Genjer-Genjer" menjadi sangat populer setelah sering dinyanyikan oleh banyak artis dan disiarkan di berbagai radio seantero negeri. Dua penyanyi yang paling termasyhur dalam membawakan lagu "Genjer-Genjer" adalah Lilis Suryani dan Bing Slamet.

Bing Slamet (Kiri) dan Lilis Suryani (Kanan)

Setelah kemerdekaan Indonesia, lagu "Genjer-genjer" menjadi sangat populer setelah banyak dibawakan penyanyi-penyanyi dan disiarkan di radio Indonesia. Penyanyi yang paling dikenal dalam membawakan lagu ini adalah Lilis Suryani dan Bing Slamet. Sangking terkenalnya bahkan kemudian muncul pengakuan dari Jawa Tengah, bahwa lagu Genjer-Genjer ciptaan Ki Narto Sabdo seorang dalang kondang. Dalam sebuah tulisannya Hersri Setiawan, memberikan penjelasan tentang asal-muasal hingga lagu Genjer-Genjer menjadi terkenal.

Propaganda PKI Melalui Lagu "Genjer-Genjer"

Njoto - Petinggi PKI dan LEKRA
Pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966), Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan kampanye besar-besaran untuk meningkatkan popularitas. Lagu "Genjer-Genjer" yang menggambarkan penderitaan warga desa, dijadikan sebagai salah satu lagu propaganda oleh PKI dan dinyanyikan dalam berbagai kesempatan. Akibatnya, orang-orang mulai mengasosiasikan lagu ini sebagai 'lagu PKI'.

Hal tersebut tak lepas dari andil salah satu petinggi PKI dan LEKRA (Lembaga Kesenian Rakyat - onderbouw PKI) bernama Njoto. Pada tahun 1962, Njoto yang sedang dalam perjalanan menuju Bali mampir dan singgah di Banyuwangi. Saat itu, lagu "Genjer-Genjer" ditampilkan oleh seniman Banuwangi untuk menghibur Njoto. Njoto yang memang bernaluri seni cukup baik segera mencium gelagat bahwa lagu "Genjer-Genjer" akan menjadi booming di zamannya. Benar saja, tak lama kemudian lagu "Genjer-Genjer" lalu menjadi semacam 'lagu wajib' bagi TVRI dan RRI yang semakin rajin menyiarkannya.

Seusai kunjungan Njoto di tahun 1962 itu, hubungan antara para aktivis Lekra dan para seniman Banyuwangi semakin mesra. Kemudian, Njoto meminta Muhammad Arief untuk membuatkan beberapa lagu yang bernafaskan PKI, seperti "Ganefo", "Satu Mei", "Mars Lekra", "Harian Rakyat", dan "Proklamasi". Sebagai mantan tentara dan pegiat seni, Muhammad Arief akhirnya diberi jabatan sebagai anggota DPRD Banyuwangi mewakili PKI.

Pasca meletusnya tragedi 30 September 1965, menurut Sinar Syamsi (putra tunggal Muhammad Arief) yang saat itu berusia 11 tahun terjadi demonstrasi besar-besaran di alun-alun Banyuwangi. Demonstrasi tersebut digawangi oleh berbagai organisasi massa yang menuntut pembubaran PKI dan pengadilan terhadap para kader maupun aktivisnya. Muhammad Arief yang merasa terancam akhirnya melarikan diri hingga akhirnya tertangkap oleh CPM (Corps Polisi Militer) di Malang, Jawa Timur.

Sejak peristiwa penangkapan itu, kabar berita tentang Muhammad Arief yang konon awalnya bernama Syamsul Muarif pun hilang bagai ditelan bumi. Hingga kini, kabar keberadaan beliau pun tidak pernah terungkap. Jika dia masih hidup, tidak diketahui keberadaannya di mana. Kalaupun sudah meninggal dunia, makamnya pun tidak pernah diketahui lokasinya.

Adapun Sayekti selaku istri Muhammad Arief sekaligus salah satu tokoh yang menginspirasi terciptanya lagu "Genjer-Genjer", ternyata memilih tetap tinggal di Banyuwangi. Karena stigma negatif sebagai keluarga PKI dan sempat mendapatkan stempel "ET" (Eks Tapol) dalam KTP-nya, Sayekti sempat mengalami stres sebelum akhirnya meninggal dunia pada tanggal 26 Januari 2007 silam.

Pelarangan Lagu "Genjer-Genjer" Oleh Rezim Orde Baru

Meletusnya tragedi berdarah nasional dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang dipropagandakan dengan singkatan "G-30-S/PKI" oleh rezim Orde Baru membuat pemerintahan junta militer yang sangat anti-komunisme tersebut memutuskan larangan penyebarluasan lagu "Genjer-Genjer". Menurut versi Pusat Sejarah Tentara Nasional Indonesia (Pusjarah TNI), para anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat menyanyikan lagu ini ketika para jenderal yang diculik sedang diinterogasi dan disiksa.

Download Lagu "Genjer-Genjer"

Bagi teman-teman yang ingin men-download lagu "Genjer-Genjer", silakan klik link-link berikut ini. Ada dua penyanyi yang membawakan lagu "Genjer-Genjer" dalam link download di bawah ini, yaitu Bing Slamet dan Lilis Suryani. Selamat men-download. :)

DOWNLOAD MP3 - Bing Slamet - Genjer-Genjer

DOWNLOAD MP3 - Lilis Suryani - Genjer-Genjer

Mengenal Singkat Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara yang bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun; selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun emisi 1998.

Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 28 November 1959 melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959.

Masa Muda dan Awal Karir Ki Hajar Dewantara

Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tetapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat anti-kolonial.

Sekelumit Aktivitas Pergerakan Ki Hadjar Dewantara

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, Soewardi juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.

Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnis yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.

Ki Hadjar Dewantara: "Als Ik Een Nederlander Was"

Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga". Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik een Nederlander was"), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, 13 Juli 1913. Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut.

"Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya."

Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini. Kalaupun benar ia yang menulis, mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian.

Akibat tulisan ini ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai "Tiga Serangkai". Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun.

Sekilas Ki Hadjar Dewantara dalam Pengasingan

Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

Ki Hadjar Dewantara Mendirikan "Taman Siswa"

Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922: Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.

Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani yang berarti "di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan". Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Taman Siswa.

Pengabdian Ki Hadjar Dewantara Pasca-Kemerdekaan Indonesia

Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, KHD diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (posnya disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan) yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, Ki Hadjar Dewantara resmi dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959, Tanggal 28 November 1959). Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata.


~Putra Raja Halilintar~
Indra Setyo Rahadhi, S.S..

Mengenal Secara Singkat Antonín Dvořák

Antonín Leopold Dvořák
Pada postingan kali ini, saya akan sedikit mengulas biografi singkat tentang seorang maestro komponis musik-musik klasik yang sangat legendaris berkebangsaan Ceko.

Karya-karya berupa musik-musik klasik romantik yang sangat nyaman dan merdu didengar lahir oleh kejeniusannya sebagai seorang komponis musik klasik legendaris. Ya, beliau adalah Antonín Dvořák.

Antonín Leopold Dvořák yang lahir di Nelahozeves, dekat Praha (saat itu wilayah Kekaisaran Austria) pada tanggal 8 September 1841 dan meninggal dunia pada tanggal 1 Mei 1904 dalam usia 62 tahun, adalah seorang komponis Ceko dari aliran musik romantik. Ia berhasil menggabungkan nada-nada musik rakyat dengan musik simfoni dan musik kamar.

Biografi dan Karier Awal

Antonin Dvořák dilahirkan pada 8 September 1841 di Nelahozeves, dekat Praha (saat itu wilayah Kekaisaran Austria, kini wilayah Republik Ceko), dan di sana ia melewati sebagian besar masa hidupnya. Ayahnya adalah seorang jagal, pemilik rumah penginapan, dan pemain zither profesional. Sejak awal orangtua Antonín menyadari bakat musiknya, dan ia mendapatkan pendidikan musiknya yang paling pertama di sekolah desa yang mulai ia masuki pada 1847.

Antonin belajar musik di satu-satunya Sekolah Orgel Praha pada akhir tahun 1850-an, dan pelan-pelan berkembang menjadi seorang pemain biola dan viola yang sukses. Sepanjang tahun 1860-an ia memainkan viola di Orkestra Teater Daerah Bohemia, yang sejak 1866 dipimpin oleh Bedřich Smetana. Karena kebutuhan menambah penghasilannya dengan mengajar, Dvořák hanya punya waktu yang terbatas, hingga pada 1871 ia meninggalkan permainannya di orkestra agar ia mempunyai waktu untuk membuat komposisi. Pada saat itu, Dvořák jatuh cinta dengan salah seorang muridnya dan menulis sebuah siklus lagu Cypress Trees, yang mengungkapkan kekecewaannya karena ia telah menikah dengan lelaki lain. Namun ia segera mengatasi kemurungannya, dan pada 1873 ia menikahi adik perempuan itu, Anna Cermakova.

Sekitar masa ini, Dvořák mulai terkenal sebagai seorang komponis penting. Ia menjadi pemain orgel di Gereja St. Adalbert, Praha, dan mulai menghasilkan banyak komposisi. Pada 1877, kritikus Eduard Hanslick menyampaikan kepadanya bahwa musiknya telah menarik perhatian Johannes Brahms, seseorang yang juga maestro komponis musik-musik klasik. Brahms menghubungi penerbit musik Simrock, yang kemudian menugasi Dvořák membuat Slavonic Dances. Komposisi yang dibuat pada 1878 ini segera memperoleh sukses. Karya Dvořák Stabat Mater (1880) dipertunjukkan di luar negeri, dan setelah sukses di London pada 1883, Dvořák diundang untuk berkunjung ke Inggris dan di sana ia mendapatkan pujian luas pada 1884. Simfoni No. 7-nya dibuat berdasarkan pesanan untuk London. Komposisi ini pertama kali ditampilkan pada 1885. Pada 1891 Dvořák mendapatkan gelar kehormatan dari Universitas Cambridge, dan karyanya Requiem Mass ditampilkan belakangan tahun itu di Birmingham.

Seperti yang ditulis Dvořák: "Saya lihat saya tidak mampu menggubah sebuah Concerto untuk seseorang yang pandai, sehingga saya harus memikirkan hal-hal lain." Sebaliknya, apa yang dipikirkan Dvořák dan diciptakannya  adalah sebuah concerto dengan nilai-nilai simfonis yang luar biasa, dimana piano memainkan peranan utama di dalam orkestra, dan bukan sebagai tandingannya.

Concerto untuk Biola dan Orkestra dalam A Minor, Op. 53 adalah yang kedua dari tiga concerto yang digubah Dvořák. Ia telah berjumpa dengan pemain biola besar, Joseph Joachim pada 1878 dan memutuskan untuk menggubah sebuah concerto untuknya. Ia menyelesaikannya pada 1879, tetapi Joachim merasa skeptis tentang karya itu. Ia adalah seorang pemain musik klasik yang murni, dan ia keberatan dengan karya inter alia Dvořák atau pemotongannya yang mendadak pada movement pertama keseluruhan orkestranya. Ia juga tidak menyukai kenyataan bahwa rekapitulasinya juga dipotong pendek dan bahwa bagian itu langsung diikuti oleh movement yang lamban. Ia tidak pernah benar-benar memainkan gubahan itu. Concerto itu pertama kali dimainkan pada 1883 oleh pemain biola František Ondříček di Praha, yang kemudian memainkannya dalam debutnya di Wina dan London.

Concerto ini digubah dalam tiga movement yang klasik. Movement yang kedua (lambat) khususnya dipuji karena lirisismenya. Concerto untuk Cello dan Orchestra dalam B Minor, Op. 104 adalah gubahan terakhir dari tiga concerto Dvořák. Ia menggubahnya pada 1894-1895 untuk temannya, cellis Hanuš Wihan. Wihan dan lain-lainnya telah lama memintanya menggubah sebuah cello concerto, namun Dvořák selalu menolak, dan mengatakan bahwa cello adalah sebuah alat musik orkestra yang indah namun sama sekali tidak memadai untuk sebuah concerto tunggal.

Dvořák menggubah concerto ini di New York sementara ia menjadi Direktur Konservatorium Nasional. Pada 1894 Victor Herbert, yang saat itu juga mengajar di Konservatorium itu, telah menggubah sebuah cello concerto dan menyajikannya dalam serangkaian konser. Dvořák menghadiri sekurang-kurangya dua pertunjukan cello concerto Victor Herbert dan terilhamkan untuk memenuhi permintaan Wihan akan sebuah cello concerto.

Cello concerto Dvořák pertama kali dipertunjukkan di London pada 16 Maret 1896 dengan cellis Inggris, Leo Stern. Concerto ini mendapatkan sambutan hangat. Brahms berkata tentang karya ini: "Andaikan saya tahu bahwa orang dapat menggubah cello concerto seperti ini, tentu saya sudah mengarangnya sejak dulu!".

Opera dan Sekilas Kehidupan Pribadi

Sambutan terhadap Dvořák sebagai komponis simfoni dan konserto memberikan kepadanya keinginan yang kuat untuk mengarang opera. Dari semua operanya, hanya Rusalka dan, hingga batas tertentu, Kate and the Devil, yang banyak dimainkan di panggung-panggung opera masa kini di luar Republik Ceko. Ini sebagian disebabkan karena perhatian mereka yang tidak merata, sebagian karena librettinya yang tidak memadai, dan barangkali juga sebagian karena tuntutan-tuntutan pementasannya - The Jacobin, Armida,, Wanda dan Dimitrij membutuhkan panggung-panggung yang cukup besar untuk menggambarkan pasukan-pasukan yang menyerbu.

Dirigen kelahiran Jerman, Gerd Albrecht, telah memimpin banyak opera Dvořák dengan label Orfeo dan Supraphon. Hanya opera Dvořák King Alfred yang kini tidak tersedia. Dvořák mempunyai hubungan sanak keluarga yang jauh dengan August Dvorak (5 Mei 1894 – 10 Oktober 1975), seorang perwira angkatan laut Amerika, yang menciptakan susunan alternatif untuk tuts mesin tik pada tahun 1930-an.


~Putra Raja Halilintar~
Indra Setyo Rahadhi, S.S..

Mengenal Secara Singkat Gerakan Illuminati

Gerakan Illuminati (bentuk plural dari bahasa Latin illuminatus yang berarti "tercerahkan") adalah nama yang diberikan kepada beberapa kelompok, baik yang nyata (historis) maupun fiktif. Secara historis, nama ini merujuk pada Illuminati Bavaria, sebuah kelompok rahasia pada Zaman Pencerahan yang didirikan pada tanggal 1 Mei tahun 1776.

Sejak diterbitkannya karya fiksi ilmiah postmodern berjudul The Illuminatus! Trilogy (1975-7) karya Robert Shea dan Robert Anton Wilson, nama Illuminati menjadi banyak digunakan untuk menunjukkan organisasi persekongkolan yang dipercaya mendalangi dan mengendalikan berbagai peristiwa di dunia melalui pemerintah dan korporasi untuk mendirikan Tatanan Dunia Baru (The New World Order). Dalam konteks ini, Illuminati biasanya digambarkan sebagai versi modern atau keberlanjutan dari Illuminati Bavaria.

Sejarah Singkat Gerakan Illuminati

Gerakan ini didirikan pada tanggal 1 Mei 1776 di Ingolstadt (Bavaria Atas) dengan nama Ordo Illuminati, dengan anggota awalnya sebanyak lima orang, dan dipelopori oleh Adam Weishaupt (w. 1830) yang merupakan seorang Yesuit. Dia adalah profesor hukum kanon di Universitas Ingolstadt. Kelompok ini terdiri dari para pemikir bebas sebagai perwujudan pencerahan dan tampaknya mencontoh gerakan Freemason. Anggota Illuminati melakukan sumpah rahasia dan berikrar untuk mengabdi kepada atasan mereka. Anggotanya dibagi menjadi tiga kelas, masing-masing dengan beberapa tingkatan, dan banyak cabang Illuminati menarik anggota dari loji Mason yang sudah ada.

Pada awalnya Weishaupt berencana bahwa kelompok itu akan dinamai "Perfectibilists". Kelompok itu juga disebut Illuminati Bavaria dan ideologinya disebut "Illuminisme". Banyak intelektualis dan politisi progresif terkenal yang menjadi anngotanya, termasuk Ferdinand of Brunswick dan diplomat Xavier von Zwack yang menjadi orang kedua di organisasi. Organisasi ini memiliki cabang di banyak negara di Eropa. Diperkirakan ada sekitar 2.000 anggota dalam kurun waktu 10 tahun. Organisasi ini juga menarik kalangan sastrawan semacam Johann Wolfgang von Goethe dan Johann Gottfried Herder, serta para duke yang berkuasa di Gotha and Weimar.

Pada tahun 1777 Karl Theodor menjadi penguasa Bavaria. Dia adalah seorang pendukung Despotisme Tercerahkan dan pemerintahannya melarang segala bentuk kelompok rahasia, termasuk Illuminati. Perpecahan dan kepanikan internal terjadi di dalam Illuminati sebelum akhirnya kelompok ini mengalami pembubaran, yang dipengaruhi oleh Dekrit Sekular yang dikeluarkan oleh pemerintah Bavaria. Dekrit pada tanggal 2 Maret 1785 tersebut tampaknya menjadi pukulan mematikan bagi Illuminati di Bavaria. Weishaupt sendiri membawa kabur dokumen dan korespondensi internal Illuminati, namun kemudian berhasil diambil pada tahun 1786 dan 1787, lalu dipublikasikan oleh pemerintah pada tahun 1787. Rumah Von Zwack digeledah untuk mencari lebih banyak dokumen mengenai kelompok tersebut.

Illuminati Modern

Beberapa kelompok persaudaraan modern mengklaim sebagai "pewaris" Illuminati Bavaria dan telah secara terang-terangan menggunakan nama "Illuminati" dalam pelaksanaan ritus mereka. Beberapa, misalnya banyak kelompok yang menyebut diri mereka sebagai "Ordo Illuminati", menggunakan nama itu secara langsung dalam organsiasi mereka, misalnya Ordo Templi Orientis, menggunakan nama "Illuminati" sebagai tingkatan inisiasi dalam organisasi mereka.

Teori Persekongkolan Illuminati

Antara tahun 1797 dan 1798, Memoirs Illustrating the History of Jacobinism karya Augustin Barruel dan Proofs of a Conspiracy karya John Robison memengemukakan teori bahwa Illuminati terus bertahan dan melaksanakan persekongkolan internasional yang masih berlangsung. Mereka mengklaim bahwa Illuminati merupakan dalang di balik Revolusi Prancis. Kedua buku itu sangat populer, terus dicetak ulang dan dikutip oleh banyak buku lainnya, misalnya oleh Proofs of the Real Existence and Dangerous Tendency of Illuminism karya Pendeta Seth Payson yang diterbitkan pada tahun 1802).

Beberapa tanggapan terhadap karya tersebut bersifat kritis, contohnya On the Influence Attributed to Philosophers, Free-Masons, and to the Illuminati on the Revolution of France karya Jean-Joseph Mounier. Karya-karya Barruel dan Robison juga memberikan pengaruh di Amerika Serikat. Di New England, Pendeta Jedidiah Morse dan beberapa lainnya berkhotbah menentang Illuminati. Khotbah mereka dicetak dan berita tentang itu masuk ke surat kabar. Pada dekade awal tahun 1800-an, masalah tersebut mulai tak lagi mendapat banyak perhatian, meskipun mengalami kebangkitan selama Gerakan Anti-Mason pada tahun 1820-an dan 1830-an.

Illuminati Masa Modern

Ketertarikan terhadap Iluminati pada masa sekarang berawal dari diterbitkannya The Illuminatus! Trilogy, sebuah karya fiksi ilmiah postmodern yang ceritanya menampilkan Illuminati sebagai penguasa dunia. Para penulis seperti Mark Dice, David Icke, Texe Marrs, Ryan Burke, Jüri Lina, dan Morgan Gricar berpendapat bahwa Illuminati Bavaria terus bertahan, bahkan mungkin hingga saat ini. Banyak dari teori tersebut mengemukakan bahwa banyak kejadian di dunia dikendalikan dan dimanipulasi oleh kelompok rahasia yang menyebut diri mereka sebagai Illuminati. Para penganut teori konspirasi mengklaim bahwa banyak orang terkenal yang menjadi anggota Illuminati. Presiden Amerika Serikat sering menjadi sasaran yang umum untuk klaim semacam itu. Tokoh penting dalam gerakan teori konspirasi, Myron Fagan, berusaha mencari bukti-bukti bahwa banyak peristiwa bersejarah, mulai dari Pertempuran Waterloo, Revolusi Prancis, sampai pembunuhan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy pada tahun 1963, semuanya didalangi oleh Illuminati.

Illuminati dalam Budaya Populer Novel

Illuminati sering digambarkan dalam novel-novel terkenal, seperti Illuminatus! Trilogy oleh Robert Shea dan Robert Anton Wilson; juga Foucault's Pendulum karya Umberto Eco, serta Angels and Demons buatan Dan Brown. Para penulis ini tidak menggunakan sumber-sumber serius yang memberikan informasi historis mengenai Illuminati, tetapi lebih berdasarkan pada teori konspirasi yang membicarakan mengenai Illuminati, sehingga Illuminati digambarkan sebagai kelompok jahat atau konspirator yang misterius dan kejam atau mereka digambarkan sebagai orang-orang tercerahkan yang berusaha melindungi dunia dari kejahatan. Informasi spekulatif ini seringkali dianggap benar. Pada kenyataannya, baik Galileo Galilei (1564-1642) ataupun Bernini (1598-1680) bukanlah anggota Illuminati, seperti diceritakan dalam novel Dan Brown, dan ceritanya mengenai tradisi seratus tahun druid Kelt, pembunuh gelap, dan Templar, yang berusaha menemukan "umbilicus telluris" (dari bahasa Latin, berarti "pusat the world"), seluruhnya hanyalah kisah fiktif.


~Putra Raja Halilintar~
Indra Setyo Rahadhi, S.S..

Mengenal Secara Singkat Santiago Ramón y Cajal

Santiago Ramón y Cajal
Pada postingan kali ini, saya akan sedikit mencuplik artikel biografi mengenai seorang tokoh histologi, dokter, penerima Nobel bidang kedokteran, dan pakar ilmu syaraf modern. Tidak masalah walaupun ini bukan bidang saya, tetapi setidaknya diharapkan kita dapat menambah wawasan pengetahuan dari cuplikan artikel yang saya ringkas dari Wikipedia.

Santiago Ramón y Cajal (1 Mei 1852 – 17 Oktober 1934) adalah seorang ahli histologi, dokter, dan penerima hadiah Nobel bekebangsaan Spanyol. Ramón y Cajal merupakan salah satu tokoh yang menyumbangkan ilmu syaraf modern dan menjadi profesor di Universitas Valencia pada tahun 1881 serta doktor pada tahun 1883 di Universitas Madrid. Selain itu, Ramón y Cajal juga menerbitkan lebih dari 100 karya ilmiah dan artikel dalam bahasa Perancis, bahasa Spanyol, dan bahasa Jerman.

Biografi

Ia adalah putra dari Justo Ramón and Antonia Cajal, lahir di Petilla de Aragón, Spanyol. Pada masa kecilnya, ia sering berpindah sekolah karena perilaku buruknya dan sikap anti-pemerintah. Salah satu contoh ekstrem tindakan pemberontakannya adalah ia sempat ditahan pada usia 11 tahun karena menghancurkan pagar kota dengan meriam buatannya sendiri.

Ramón y Cajal mengenyam pendidikan kedokteran di Zaragoza dan lulus pada tahun 1873. Setelah lulus, ia bekerja sebagai petugas medis untuk tentara Spanyol. Salah satu tugasnya adalah ia dikirim ke Kuba. Setelah pulang ke Spanyol, ia menikah dengan Silveria Fañanás García pada tahun 1879 yang memberikannya empat puteri dan tiga putera.

Ia menjadi profesor di Universitas Valencia pada tahun 1881 dan pada tahun 1883 ia menerima gelar doktor kedokteran di Madrid. Ia menjabat menjadi direktur Museum Zaragoza (1879), direktur Institut Nasional Ilmu Kesehatan (1899), dan pendiri Laboratorio de Investigaciones Biológicas - kelak berganti nama menjadi Instituto Cajal atau Institut Cajal - (1922). Ia meninggal di Madrid pada tahun 1934.

Karya dan Teori

Karya Ramón y Cajal yang paling terkenal adalah mengenai struktur sistem syaraf pusat. Cajal menggunakan teknik histologis yang dikembangkan oleh Camillo Golgi. Golgi menemukan bahwa dengan memberikan larutan perak kromat pada jaringan otak, maka akan relatif sedikit neuron (sel syaraf) yang ternoda. Cara demikian memudahkan Golgi mengamati lebih detail dari struktur neuron dan memberikan suatu kesimpulan bahwa jaringan syaraf adalah sebuah retikulum (jaringan) yang berkesinambungan dari sel-sel yang saling berhubungan.

Dengan menggunakan metode Golgi, Ramón y Cajal menemukan kesimpulan yang berbeda dari Golgi. Ia postulat bahwa sistem syaraf dibangun dari miliaran neuron yang terpisah dan sel-sel tersebut terpolarisasi. Tidak seperti pendapat Golgio yang mengatakan neuron membentuk jaringan yang berkesinambungan, Ramón y Cajal mengatakn neuron-neuron tersebut berkomunikasi antara satu yang lainnya dengan hubungan khusus yang disebut sinapsis. Kata "sinapsis" diberikan kelak oleh Sherrington pada 1897. Hipotesis ini menjadi dasar doktrin neuron, yang mengatakan satuan individual dari sistem syaraf adalah sebuah neuron tunggal. Pada masa berikutnya, mikroskop elektron menunjukkan membran sel neuron secara lengkap dan hasilnya mendukung teori Ramón y Cajal, dan melemahkan teori retikuler Golgi.

Bagaimanapun, dengan penemuan sinapsis, beberapa pendapat mengatakan teori Golgi paling tidak masih dapat diterima sebagian. Untuk karya ini, Ramón y Cajal dan Golgi berbagi dalam hadiah Nobel kedokteran pada 1906.

Ramón y Cajal juga berpendapat bahwa akson tumbuh melalui konus pertumbuhan pada ujungnya. Ia memahami bahwa sel saraf dapat menangkap sinyal kimiawi yang menandakan arah pertumbuhan. Proses ini dikenal dengan kemotaksis.

Gelar dan Buku

Ramón y Cajal juga menerima penghargaan dari Universitas Cambridge dan Würzburg, dan penghargaan ilmu filsafat dari Universitas Clark.

Ia menerbitkan lebih dari 100 karya ilmiah dan artikel dalam bahasa Perancis, bahasa Spanyol, dan bahasa Jerman. Karyanya yang terkenal adalah Rules and advices on scientific investigation (Aturan dan Adpis dalam Investigasi Ilmiah), Histology (Histologi), Degeneration and regeneration of the nervous system (Degenerasi dan Regenerasi Sistem Saraf), Manual of normal histology and micrographic technique (Panduan Histologi Normal dan Teknik Mikrografis), Elements of histology (Dasar Histologi), Manual of general pathological anatomy (Panduan Patologi Anatomi Umum), New ideas on the fine anatomy of the nerve centres (Pendapat Baru mengenai Anatomi Pusat Saraf), Textbook on the nervous system of man and the vertebrates (Buku Teks Sistem Saraf Manusia dan Hewan Bertulang Punggung), and The retina of vertebrates (Retina Hewan Bertulang Punggung).

Pada tahun 1905, ia menerbitkan lima buku fiksi ilmiah, "Vacation Stories" dengan samaran "Dr. Bacteria."


~Putra Raja Halilintar~
Indra Setyo Rahadhi, S.S..